Sebenarnya Siapa yang BODOH ?


Akhirnya jam istirahat pun datang, waktunya makan siang.
Siang hari yang sangat terik . . . . . Herman seorang karyawan Bank BRI keluar kantor untuk makan siang.

“ Waduh . . . . . . diluar sangat sangat panas ternyata, tahu kaya gini mending nitip temen aja tadi.” Gerutu Herman.

Keadaan diluar ternyata tak terbayang oleh herman, bekerja di ruangan ber – AC membuatnya tak mengira ternyata diluar sangat – sangat panas. Namun apa daya, rasa lapar yang telah menyelimutinya tak menghiraukan panas yang begitu menyengat kulitnya. Langkahnya terus menuju Warteg langganan di seberang jalan, walaupun harus melawan sengatan panas, tak membuat hatinya gentar untuk merasakan nikmatnya masakan ibu Konaah sang pemilik warteg seberang jalan.
Suara klakson yang saling saut menyaut mebuat suasana siang yang panas menjadi  semakin panas, ternyata ada sebuah kejadian seorang anak kecil yang terserempet motor.

“ Mas. . . . .  ada apa, Xo rame sekali yah ?” Tanya Herman pada salah seorang dari kerumuanan.

“ Ada anak kecil terserempet motor mas.” Jawab salah satu warga warga tersebut.

“ Gimana keadaan anak tersebut ?” Tanya Herman Kembali.

“ Ga apa – apa xo mas, hanya terjatuh pelan, motornya juga tak melaju dengan kencang. Anak kecil itu paling hanya kaget. Pengendara motor juga ga apa – apa.” Jawab warga kembali.

“ Ow . . . .  Syukurlah.” Kata Herman sambil menghela nafas pelan.

Herman pun melanjutkan perjalanannya menuju warteg untuk segera makan siang. Sesampainya di Warteg banyak masakan yang tinggal sedikit.

“ Bu Na’ah makan nie.” Kata Herman.

“ Monggo mas. . . ., makan pakai apa ?” Bu kona’ah mempersilakan mas Herman.

“ Duh, bingung nie . . . . masakannya tinggal sedikit semua bu. Hari ini Laris banget yah bu ?” Tanya Herman.

“ Alhamdullah mas, Tadi pagi ada yang pesan buat makan bersama, dan biasa kalau jam segini yah sudah banyak yang pada makan. Baru saja pada keluar gentian dengan yang lain.” Jawab Bu Kona’ah.

“ Syukur Alhamdullah yah, Saya pesen seperti biasa bu. Pakai sayur Asem, pecak ikan Sambalnya dibanyakin .” Pesan Herman.

“ OK. . . .  Minumnya apa mas ?” Tanya bu Na’ah.

“ Es Jeruk bu, es nya dibanyakin. . . .  hehehehehehehehehehe”. Jawab Herman.

Setelah makanan sudah siap dihidangkan, Herman pun makan dengan lahapnya. Tiba – tiba ada seorang bapak - bapak paruh baya juga sedang makan, tepat disamping memberi tahukan sesuatu.

“ Mas, Lihat deh anak kecil itu . . . .  yang sedang berjalan membawa plastik kresek itu”. Sambil menunjuk kearah anak kecil.

“ Ya pak, emang kenapa dengan anak tersebut?” Tanya Herman.

“ Anak itu adalah anak yang paling bodoh yang pernah saya temui mas.” Jawab orang tersebut.

“ Maksudnya gimana pak?” Tanya Herman semakin penasaran.

“Lihat nih ya, saya Praktikkan.” Jawab bapak tersebut hendak membuktikan.

Akhirnya anak kecil yang sembari tadi dibicarakan oleh Bapak – bapak dan Herman pun semakin mendekat berjalan melewati Warteg tempat herman sedang makan siang. Kemudian dengan semangatnya bapak tadi memanggil anak kecil tersebut dan ditawarkannya lah 2 lembar mata uang yang sengaja diambil dari saku celana hitam panjangnya.

“ Tong – Tong sini tong . . . .  lihat tangan saya, ada uang kamu boleh mengambil salah satu dari ini. Terserah kamu, mau pilih yang mana?” Suruh Bapak – bapak tersebut.

Anak kecil itu pun mengambil salah satu uang yang ditawarkan bapak – bapak tadi, dengan riang gembira anak tersebut pun berterima kasih dan langsung pergi. Bapak tersebut kembali masuk ke dalam Warteg dengan bangganya.

“ Lihat kan mas, anak itu sangat bodoh. Padahal saya menawarkan 2 lembar mata uang. Yang satu uang 20 ribuan, yang satunya uang 2 ribuan. Logikanya anak seusia dia kan tahulah mana nominal yang besar dan nominal yang kecil, masa 20 ribu sama 2 ribu perak lebih memilih 2 ribu perak, kan berarti anak itu sangat sangat bodoh. Padahal anak saya yang masih 3 tahun kalau diberi uang mintanya yang angka nolnya banyak mas ”. Bapak bercerita dengan bangganya.

Herman pun hanya mengangguk – anggukan kepala tanda setuju. Akhirnya makan siang pun telah usai dengan perasaan puas, makan yang kenyang dan rasa lapar yang sirna. Herman melanjutkan langkahnya keluar dari warteg untuk kembali ke kantor yang sembari tadi ditinggalkannya untuk makan siang. Ditengah perjalanannya Herman melihat anak kecil yang tadi disuruh memilih uang yang diberikan bapak – bapak pas makan di warteg.

“ Hai Tong, kamu yang tadi dikasih uang sama bapak – bapak yang ada diwarteg kan?” Tanya Herman.

“ iya Ka.” Jawab dengan singkatnya.

“ Kenapa tadi kamu mengambil uang yang 2 ribu, tidak yang 20 ribu?” Tanya Herman dengan penasaran.

“ Saya lebih suka mengambil 2 ribu ka, tiap kali saya disuruh milih juga saya tetap akan selalu mengambil uang uang 2 ribu saja.” Jawab anak kecil tadi.

“Bukan begitu, maksudnya kenapa kamu lebih memilih uang 2 ribu dari pada 20 ribu?  Padahal kamu kan tahu 2 ribu itu lebih sedikit dari pada 20 ribu. 20 ribu itu 10x lipat dari 2 ribu lho ". Herman lebih menegaskan maksud pertanyaannya.

“ Sebenarnya saya juga tahu Ka, tentang hal itu. Tapi apa  bila saya ambil uang yang 20 ribu maka saya tidak akan pernah mendapatkan lagi uang dari bapak tersebut dan hanya sekali saja. Saya setidaknya 3 hari sekali disuruh memilih uang antara 2 ribu atau 20 ribu, saat itu juga saya akan selalu ambil uang yang 2 ribu, sudah 1 tahun ini saya sering di suruh seperti itu. Tidak masalah saya dianggap bodoh atau kurang waras oleh bapak itu karena lebih memilih uang 2 ribu dari pada 20 ribu. Yang saya butuhkan adalah uangnya bukan nominal banyaknya, bayangkan apa bila pertama kali tepatnya tahun kemarin saya lebih memilih uang 20 ribu, mungkin sampai saat ini saya tak akan pernah lagi mendapatkan uang dari bapak tersebut. Tak masalah dapat sedikit asalkan mendapatkannya terus menerus, istiqomah, sebulan bisa 10 x kadang sampai 15 kali disuruh memilih oleh bapak itu.” Jelas anak tersebut.

Herman hanya terdiam mendengar penjelasan anak kecil tersebut, anak kecil yang tadinya dianggap bodoh sama seperti anggapan orang lain. Ternyata jawaban yang diperoleh jauh diluar dugaan.

“ ow . . . .  Seperti itu, ya udah makasih ya jawabannya .” Herman langsung meninggalkan anak tersebut bergegas menuju ke kantornya kembali karena jam makan siang sudah selesai.

Rejeki sekecil apa pun apa bila, datang secara terus menerus tak pernah putus. Maka bersyukurlah, dari pada Langsung mendapatkan Rejeki yang besar dan hanya datang sekali seumur hidup ( ya itu juga wajib disyukuri, hanya saja mending yang sedikit asal lancar . . . hehehehehehehe )

Seperti Prinsip seorang pedagang, ambillah Laba atau keuntungan sedikit asalkan lancar membuat peminat atau konsumen semakin banyak dari pada mengambil keuntungan besar hanya membuat konsumen kabur dan tak mau membeli lagi.

Salam LITERASI ceritapatoh.com 

Posting Komentar

0 Komentar