[CERPEN] Aku Ingin Menjadi Guru


Impiannya adalah ingin menjadi seorang guru, cara berbicara, berperilaku, serta saat menghadapi dan menyelesaikan masalah memiliki keunikan dibanding dengan anak – anak seusianya. Namanya Syahrul, masih duduk dikelas 2 SD, syahrul berasal dari keluarga yang kurang mampu, lingkungan yang tak begitu mendukung untuk keberlangsungan mencapai cita – citanya untuk menjadi seorang guru.  Orang tuanya hanya seorang buruh tani yang hanya dapat penghasilan atau pendapatan  dari orang yang menyuruhnya bekerja di sawah, apa bila tak ada yang menyuruh mereka secara otomatis mereka tak dapat penghasilan.

Orang tua Syahrul bahkan tak lulus SD, tetangga atau lingkungan tempat tinggalnya pun kebanyakan buruh tani yang tak begitu memahami arti pendidikan, menurut mereka anak sekolah yang penting bisa baca tulis dan berhitung, berhitung pun pada hal – hal yang umum di masyarakat saja seperti, penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, ya yang umum atau banyak dipergunakan dimasyarakat.

“ Rul . . . . . . . Bapak sama ibu berangkat dulu yah, kalau kamu lapar di atas meja sudah ada nasi bungkus, dan uang saku ada di bawah kasur . Wassalamu’alaikum “. Ujar orang tua syahrul.

“ Ya pak. . . . . ya bu . . . . .  Walaikumsallam, Hati – hati ‘. Jawab Syahrul dari balik kamarnya.

Seperti biasa orang tua syahrul berangkat kesawah sebelum syahrul keluar dari dalam kamarnya, karena sawahnya jauh mau tidak mau mereka harus berangkat masih pagi buta, dan kadang pulangnya juga sampai petang. Selepas rumah sepi dengan berangkatnya  mereka tak berselang lama syahrul pun keluar dari kamarnya, seperti biasa setelah keluar dari kamarnya syahrul pun menyapu, mencuci piring pokoknya bersih – bersih rumah.

Setiap pagi setelah sholat subuh syahrul memang lebih banyak dikamar, belajar, menyiapkan buku pelajaran untuk hari ini. Walaupun masih berumur 8 tahun, syahrul sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan orang dewasa, hal tersebut sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya sejak dini. Hanya bersih – bersih rumah sudah biasa dikerjakan setiap hari, malah setiap liburan sekolah, apa bila anak – anak yang lain seusia saya pada asyik bermain, berlibur ke luar kota, jalan – jalan ke obyek wisata, syahrul malah begelut dengah teriknya panas mentari setiap hari membantu orang tuanya di sawah dengan mendapat imbalan seadanya karena masih kecil. Hal tersebut syahrul lakukan dengan suka hati, karena dia merasa bangga bisa membantu orang tuanya, dia pun tak iri dengan teman – teman yang liburan menikmati liburan dengan berjalan – jalan bersama keluarga mereka.

Setelah selesai bersih – bersih rumah, mandi dan sarapan , Syahrul pun bersiap untuk berangkat ke sekolah.

“ Bismillah . . . . .  Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin “. Sambil menutup pintu, syahrul pun siap berangkat sekolah.

Baru saja di depan rumah mau berangkat sekolah tiba – tiba ada suara yang memanggil – manggil nama syahrul.

“ Rul . . . . . . Rul . . . . . .tunggu . . . . . berangkat bareng, makasih ya. . . . .  semalam sudah memberi tahu cara mengerjakan PR matematika ‘. Suara Ari terengah – engah memanggil Syahrul dari belakang.

“ Ya Ri . . . . .  santay aja”

“ Sebenarnya mudah yah . . . . Cara menerangkan pak guru dengan cara kamu menerangkan sangat berbeda rul “

“ Sebenarnya sama aja, kamunya aja yang pas pak guru menerangkan banyak bercandanya. Lain kali kalau ada guru yang menerangkan dengarkan dengan baik, kalau ada yang paham tanyakan aja”.

“ Ga, rul , . . . .  benera lebih cepat memahami penjelasan kamu ketimbang penjelasan pak guru. Kamu kayaknya berbakat rul dalam memberi penjelasan materi pelajaran”.

Tidak terasa dengan obrolan yang begitu mengasyikan Syahrul dan Ari sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah.

“ wah tak terasa kita sudah berada di depan gerbang sekolah.” Ucap Syahrul.

“ hehehehehehehe iya yah, perasaan baru tadi kita berjalan dari rumah.” Kata Ari.

Bel masuk pun berbunyi, teng teng teng  . . . . klenteng . . . .

“ Siap – siap Pak Sardi mau masuk “. Ujar Syahrul.

Satu kelas pun duduk bersiap siap menerima pelajaran dari pas Sardi.

Pelajaran pun dimulai dengan semangat semua siswa kelas 2 mengikuti pelajaran pak Sardi yang dikenal sangat penyabar, baik, dan juga penuh perhatian terhadap siswanya. Semua siswa begitu antusias, begitu menikmati apa lagi pada saat ada pertanyaan mengenai cita – cita.

“ Ayu, cita – cita kamu apa, dan kenapa ingin menjadi seperti yang dicita -citakan?” Tanya pak Sardi.

“ Saya ingin menjadi Bidan pak, Sebab Ibu saya seorang Bidan, kaka perempuan saya juga bidan, dan istri kaka juga bidan. Jadi saya juga pengen jadi bidan pak ”. Jawab ayu.

Semua kelas tertawa terbahak - bahak mendengar jawaban dari Ayu, apa lagi si Ari temannya Syahrul yang begitu lebay tertawanyaa.

“ Sudah – sudah . . . . . . . apa yang kalian tertawakan? Bercita – cita menjadi bidan adalah hal yang mulia. Seorang bidan adalah profesi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Adanya seorang bidan banyak ibu hamil dapat melahirkan dengan selamat, bayi sehat, tumbuh kembang dengan baik. Jangan ditertawakan, apa lagi kamu Ari” jelas pa Sardi.

Akhirnya mendengar penjelasan dari pak Sardi semua siswa pun berhenti tertawa.

“ Syahrul, apa cita –cita kamu, dan mengapa ingin seperti yang dicita – citakan ?” Tanya Pak Sardi melanjutkan.

“ Saya Ingin menjadi seorang Guru Pak, Saya ingin pintar, sehingga bisa menjadi guru yang dapat menjadi panutan untuk teman – teman. Karena guru menurut saya adalah seorang yang sangat berperan penting dalam kehidupan, Tak mungkin ada seorang presiden, menteri – menteri, tidak akan ada dokter, takan ada orang pintar, intinya semua adalah berkat jasa seorang guru. Saya dari keluarga miskin, bapak ibu saya hanya seorang buruh tani, untuk makan saja kadang orang tua saya  harus bekerja pagi pulang petang. Saya ingin menjadi orang yng berguna, walaupun secara ekonomi kurang, pasti suatu saat saya bisa membantu orang lain dengan ilmu yang saya miliki. Dengan menjadi seorang guru maka ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat untuk orang lain”. Jawab Syahrul.

Semua siswa terdiam, pak Sardi pun Terdiam mendengar angan – angan seorang anak laki – laki yang baru berusia 8 Tahun yang baru kelas 2 SD namun sudah memiliki pandangan mengenai seorang guru. Semua pun tepuk Tangan.

“ Hebat kamu Rul, terus semangat. Insyallah, bisa tercapai. Ok, karena  sebentar lgi istirahat materi ini akan dilanjutkan setelah istirahat. Wassalamu’alaikum wr. . . . .  wb . . . . .

“ Walaikumsallam wr….wb… “. Jawab para siswa serentak.

Pak sardi pun keluar kelas, sepeninggalan pak Sardi keadaan kelas semakin rame akibat para siswa yang bermain, bercanda, berteriak – teriak, ada pula yang main kejar – kejaran. Pokoknya rame sekali.

“ Rul, ke kantin yuk “. Ajak Ari.

“ Ga Ri, makasih”. Jawab Syahrul.

Ari bersama teman yang lainnya pun bergegas ke kantin, namun Syahrul hanya di dalam kelas membaca buku, mengajari teman – teman yang lain mengerjakan tugas sekolah.

Hari sudah mulai siang, waktu pulang sekolah pun tiba. . . .

Teng . . . . .  teng . . . . .  Klenteng . . . .

Para siswa berhamburan keluar kelas, tak terkecuali juga syahrul dan ari, dalam perjalanan pulang mereka saling bercanda.

“ duh, kenapa tadi pak Sardi tidak Tanya cita – cita saya yah?”

“ Emang cita – cita kamu apa Ri?”

“ saya juga ingin menjadi guru, Rul”.

“ Kenapa ingin jadi guru?”

“ Saya kan juga ga mau kalah dengan kamu Rul. Masa kamu jadi guru hebat, saya hanya duduk manis melihat. Saya juga harus jadi guru donk, biar selalu bersaing dengan mu”.

“ Ah, bisa aja kamu. Guru itu bukan profesi sembarangan, setiap kali saya melihat acara berita di TV, banyakan kriminalnya atau yang jahat – jahat dari pada yang indah – indah. Korupsi, pembunuhan, penculikan, bayaklah pokoknya. Padahal ga ada guru yang pernah mengajari seperti itu. Saya ingin menjadi salah satu yang bisa merubah hal tersebut, yaitu dengan menjadi guru kita kan bisa menularkan kebaikan kepada banyak orang, menerangkan, apa bila korupsi, mencuri, atau hal – hal yang merugikan orang lain itu tidak baik”.

“ Iya Rul, betul ituh. He he he he he he he he . . . .

Mereka pun sampai dirumah masing – masing, Seperti biasa rumah Syahrul masih sepi karena kedua orang tuanya belum pulang. Setelah meletakan Tas pada tempatnya, melepas sepatu, seragam, membaca buku, makan sing sholat Dzuhur kemudian istirahat.

~SELESAI~

Posting Komentar

0 Komentar