Memburu Pelangi


Angga selalu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor. Sepeda motor ini yang menjadi transportasi utama angga untuk berangkat ke sekolah dan juga untuk mengantar ibunya berjualan dipasar. Setiap hari angga berangkat dan pulang sekolah dengan adiknya yang juga satu sekolah denganya.

Suatu hari angga dan temanya berencana untuk nongkrong bareng. Ketika baru sampai di tempat tongkrongan angga datang langsung menggubris.

"sial baget sih gue hari ini!" Ucap angga dengan amarah yang meledak ledak.
"Loh kenapa ngga baru datang udah sewot ajah?" Ujar temanya.
"Ini adik gue kurang ajar baget. Motor satu satunya buat kendaraan kesekolah dan ngantar ibu ke pasar malah di ambil sama pak polisi. Kan gila tuh bocah!" Dengan amarah yang semakin meledak . "Loh ...loh!! Emang kenapa kok bisa sampai di ambil pak polisi sih?" Teman angga melontar.
"Tau lah ...!! Gue sedang binggung motor melayang adek gue malah nambah nambahin masalah!". angga bertutur. Dengan wajah yang semakin binggung teman angga berkata.
"lah kenapa lagi ngga?".

Angga mencoba menenagkan diri untuk menjelaskan semua kepada temanya.

"jadi gini, adik gue merasa bersalah sudah buat motor di ambil sama pak polisi, sekarang dia syok banget dan nekat mau bunuh diri. Bener -bener gilakan tuh anak". Dengan muka yang semakin memerah dan sewot angga berusaha menahan diri. "kalo kaya gini gue pengin mati ajah. Pusing mikirinya. Gila .....stres banget aku (diam sesaat) Bro kamu bisa bantu aku gak cari adek gue gak takutnya beneran nekat bunuh diri tuh anak". " bisa banget lah . Yo cepet kita cari!" Teman angga Spontan menjawab .

Seteh lama mencari ternyata adik angga ada dirumah temanya sedang tidur. "Brengsek! Gue pusing cari kesana kemari dia malah enak-enakan tidur. Kurang ajar banget ini anak (mendengus kesal) .Bro kita balik aja ketongkrongan" gubris angga kepada temanya. Angga lega melihat adiknya tidak melakukan apa yang pernah di katakan. Dan angga merasa geram dengan apa yang telah adiknya perbuat. "ingin rasanya aku menghajar habis nih anak!. Hah....!! Tidak ada gunanya juga aku ngabisin dia semua sudah terlanjur terjadi dan tidak akan mengubah semua" .

Akhirnya mereka berdua kembali ke tempat tongkrongan. Muka angga semakin pucat karena pusing memikirkan gimana nantinya dia dan adiknya berangkat ke sekolah, juga mengantar ibunya ke pasar.

 "Bro..! belikan aku minuman keras biar aku tenang" angga berkata.
"Angga kamu gak boleh kaya gitu!" Ujar teman angga.
"Gue pusing mikirinya. Gue pengin tenang. Loh sih enak gak ada masalah lah gue berantakan semua. Hah..........!! Kenapa hidup gue gini amat sih. Bapak gue tidak tanggung jawab sama keluarga, ibu harus banting tulang cari uang, lah sekarang adik gue bikin masalah. Udahlah belikan aku minuman keras setidaknya aku bisa tenang sebentar! " tutur angga ke temanya.
 "ngga aku tau apa yang loh rasakan. Tapi percuma saja loh meminum minuman keras itu tidak akan mengubah semuanya. Masalah itu harus di hadapin bukan untuk dihindarin. Sabar ngga semua pasti ada jalanya Allah tidak akan memberikan masalah diluar kemampuan hambanya". Teman angga mencoba menenangkan . Sontak angga melirik sinis dengan mata tajam, angga langsung menarik baju temanya. " loh gak usah sok ngajarin. Loh nggak tau apa yang aku rasakan sekarang ini" dengan nada tinggi angga berbicara dan hendak memukul tetapi terhenti .

Teman angga hanya bisa diam dan pasrah kepada angga karena dia tau keadaan yang angga alami. "Pukul gue ngga!! Asalkan itu bisa membuatmu tenang, loh sahabat gue ngga, gue gak bisa liat loh kaya gini" ucap teman angga sambil menitikan air mata . Angga tercengang mendengar perkataan temanya dan langsung melepaskan cengkraman kemudian merangkul tubuh temanya dengan erat. " maafkan gue..." hanya itu kata yang mampu angga katakan kepada temanya. "Udahlah ngga loh gak usah meminta maaf sudah jadi tugas gue sebagai sahabat loh untuk menemani disaat suka maupun duka" tutur teman angga. " loh tau kan gue sekolah tidak hanya sekolah. Gue juga kerja setiap pulang sekolah terkadang gue tidak berangkat sekolah karena gue harus cari uang dengan menjadi sopir trek yang mengangkut pasir. Itu semua gue lakukan untuk membiayai sekolah gue dan adik gue. Terkadang gue juga iri dengan teman-teman yang lain bisa jalan-jalan ketika liburan sekolah, kumpul bareng dengan keluarga, bercanda ria bersama sedangkan gue harus bekerja keras siang dan malam untuk mencari uang" angga bertutur dengan air mata yang berlinang. Teman angga mendengarkan semua yang angga ceritakan dan kemudian berkata. " ngga ...! Aku yakin loh bisa melewati masa sulit ini. Dan aku yakin loh akan menjadi orang yang sukses. Gue bangga punya sahabat kaya loh ngga, loh bisa kerja bantu orang tua sedangkan gue hanya bisa menumpukan tangan mengharap uang dari orang tuaku " sambil menepuk pundak angga seakan mengalirkan kekuatan agar angga tetap tegar. "Oh iya loh belum sholat kan? Yuk kita sholat bareng biar hati kita tenang". Kini hati angga sedikit terbuka, senyum tipis dari bibirnya menandakan dia sudah mulai baik-baik saja. "Betul juga yah. Tapi aku lupa caranya sholat gimana dong?" Angga tersipu malu mengatakanya . Sambil tersenyum teman angga berkata. "tenang ajah ngga aku bisa ajarin kamu sholat. Yuk kita sholat berjamaah di masjid". Mereka berdua akhirnya sholat berjamaah bersama.

 Niat yang besar akan menaklukkan masalah sebesar apapun. Kini angga tidak pernah melihat pelangi dikepala orang lain karena dia sadar pelangi didalam kehidupanya sendiri jauh lebih indah.
Penulis
Iren Nizah Pradefi
Profil
Instagram: @Renizah

Posting Komentar

0 Komentar