Karena Bahagiaku Tak Harus Sama Seperti Kalian


Percayalah bahagia itu sederhana, contohnya saat kita melihat ayah dan ibu barcanda ria, saat kita melihat kaka dan adik bercanda ketawa ketiwi, saat kita bisa merasakan pelukan orang tua, dan saat kita merasakan belaian orang tua kita pun, itu bisa membuat bahagia.

Dan bagi kalian yang tak memiliki orang tua, bahagia itu saat mengenang bersama mereka, duduk bersama, bercanda, duduk dipangkuannya, diceritakan masa lalu hidupnya, dan saat diceritakan kisah membesarkan kita sebagai anaknya.

Kadang kita merasa iri dengan mereka yang memiliki keluarga yang utuh, karena mereka bisa merasakan jalan - jalan bersama, makan bersama, dan bercanda bersama.

Mungkin melihat mereka membuat aku marah.

Kenapa aku tak bisa seperti mereka ? ? ?

Kenapa hidupku seperti ini ? ? ?

Ingin rasanya hati ini berontak dengan keadaan yang saat ini kujalani, ingin sekali rasanya aku memukul mereka yang kadang menjelekkan orang tuanya, merasa paling benar sendiri dan tak peduli dengan orang tua mereka, suka membentak, tak sopan, kurang ajar, nada bicaranya lebih tinggi dari orang tua. Ingin rasanya ku berkata kasar.

"Kalian terlalu sempurna dari pada aku, namun kenapa masih mengeluh dengan keadaan kalian ?"

"Kenapa nada bicara kalian lebih tinggi dari mereka?"

"Kenapa menjelek - jelek kan mereka ?"

"Kenapa mereka tak kalian anggap?"

"Kenapa kalian marah terhadap mereka ?"

"Kenapa kalian malu punya orang tua, Seperti MEREKA ?"

"Kenapa, kenapa, kenapa dan kenapa......?"

Ketahuilah, aku yang dari kecil saja ingin rasanya dimarahi orang tua, ingin rasanya diceramahi orang tua, ingin rasanya membanggakan mereka, ingin rasanya bercerita banyak tentang mereka. Namun aku sendiri ga tahu mereka ada DIMANA? Aku ga tahu harus bilang apa tentang mereka. Yang pasti aku ingin sekali seperti kalian yang masih memiliki keluarga yang utuh.

Saat ku melihat anak yang berangkat sekolah diantar orang tuanya, dan diberi uang saku oleh mereka, kemudian mereka berpesan " sekolah yang bener yah nak, jangan lupa bekalnya dimakan, dan jangan jajan sembarangan." Ingin rasanya aku juga bisa mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi apa daya takdir sudah berkendak lain, aku hanya bisa menangis dalam hati, tak bisa merasakan yang mereka rasakan.

Mungkin kebahagianku memiliki jalur yang berbeda dengan kalian, saat kalian bergembira dengan kedatangan orang tua yang pulang bekerja, aku merasa sangat senang saat melihat nenek pulang dari sawah, aku bisa merasakan beratnya kehidupan beliau yang membesarkan ku seorang diri, kulihat kerut dahinya yang menandakan begitu hebat dan kerasnya hari yang dijalaninya, namun beliau tetap tersenyum saat melihat wajahku, cucunya yang paling disayanginya saat menunggu kepulangannya persis di depan pintu rumah.

Melihat seorang nenek yang berjalan dengan semangat menjalani keseharian yang begitu berat, dengan wajah yang penuh kerutan dan tubuh yang hitam legam, akan tetapi senyumnya begitu menentramkan, pandangannya yang tajam penuh perhatian, dan belaian telapak tanganya yang kasar membuyarkan semua lamunanku.

Nek . . . teruslah berjuang sampai engkau bisa melihat cucu mu ini sukses.
Teruslah hidup sampai cucu mu ini sukses.

Hal yang paling menyedihkan bagiku adalah sebuah kegagalan, namun akan lebih menyedihkan lagi apa bila engkau tak ada disampingku saat aku sukses nanti.

Posting Komentar

6 Komentar