Tak Selalu Orang Yang Berpendidikan Itu Juga Memahami Arti Pendidikan


Disaat yang lain pagi-pagi pakai seragam,  berpakaian rapi, rambut klimis, bersepatu nencis, ingin rasanya aku juga bisa seperti mereka. Namun apa daya, kondisi keluarga ku tidak seperti mereka yang memiliki keluarga utuh dan berpenghasilan cukup. Aku hanya berharap kelak anak - anak ku tak akan bernasib sama seperti ku.

Setiap pagi selepas sholat subuh, ku gunakan untuk membantu ibu menyiapkan barang dagangan, setiap hari selalu ku lewat depan sekolah impian yang sampai kapan pun hanya jadi mimpi bagiku bisa beseragam bagus, bisa tertawa bercanda dan bersahaja seperti mereka.

Jam setengah 7 pagi selalu aku sempatkan untuk berdiri dipojokan memandangi mereka yang datang dan masuk kedalam sekolah. Ada yang diantar orang tuanya pakai motor, ada yang diantar orang tuanya pakai becak, kuliah juga Bapak / Ibu guru yang selalu ingin ku sapa, ingin ku cium tangannya mengharapkan doa dan ridhonya, mendapatkan setiap tetes ilmu yang dibagi kan, melihat anak sekolah yang berlarian dengan riang gembiranya, melihat wajah - wajah yang memiliki masa depan, wajah yang sedang berjuang manggapai impian, entah kenapa rasa hati ini ingin berontak, kenapa aku tak memiliki kesempatan seperti mereka.

Ingin sekali rasanya ku langkahkan kaki menuju masuk ke gerbang sekolah, ingin ku gapai impian dan cita - cita melalui proses pendidikan yang layak seperti mereka. Namun apa daya beginilah nasibku, hanya bisa memandang dari kejauhan, hanya ada rasa ingin mengikuti pelajaran, bagiku bisa seperti ini juga merupakan anugerah yang maha kuasa.

Aku selalu ingat kata ibuku, pendidikan yang baik bukan selalu mendapatkan Ijazah. Pendidikan yang sebenarnya adalah kasih sayang orang tua yang selalu mengajarkan kebaikan, yang selalu mengajarkan kejujuran, amanah, dan istiqomah. Banyak dari mereka yang pintar, bersekolah tinggi namun nol akhlaknya. Sering menggunakan kekuasaan hanya untuk memperkaya diri, tak amanah mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan kewajibannya, bahkan yang menjadi kewajibannya malah ditinggal karena memiliki bayaran yang lebih sedikit.

Banyak juga dari mereka yang berkerja bukan atas dasar keikhlasan semata melainkan karena mengharapkan imbalan yang melimpah. Yang Pintar dan baik juga banyak, namun lebih banyak mereka yang terlena akan tutipan amanah berupa harta dan jabatan.

Percayalah harta hanya titipan yang memiliki masa, apa lagi jabatan yang hanya sebatas kepercayaan semata.

Walapun saya hanya lulusan SD, saya masih bersyukur memiliki ibu yang memahami pendidikan. Dari pada lulusan S1 bahkan S2 yang berpendidikan namun tak memahami arti pendidikan itu sendiri. Yang hanya bekerja dan berharap imbalan semata.

Posting Komentar

0 Komentar