Hera (Prolog)


Namaku Sri Hera Asih, biasa dipanggil Asih kalau di rumah, Hera kalau di sekolah dan Sri apabila teman – teman meledek ku. Sekarang aku duduk di kelas X di sebuah SMA swasta yang ada di desaku, aku mempunyai adik perempuan bernama Sri Ari Lestari dan biasa dipanggil Tari, umurnya masih 7 tahun dan masih duduk dikelas 1 SD, dan kakak laki-laki bernama Aryo Budi Lesmana yang biasa ku panggil dengan sebutan Ka Aryo, dan saat ini dia sedang kuliah semester 4 mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di salah satu Perguruan Tinggi Swasta.

Ibu ku bernama Sri Rahayu, beliau merupakan sosok wanita yang sangat penyabar, penuh perhatian, baik hati dan selalu menolong orang yang membutuhkan, beliau tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang dijalani. Dan ayah ku bernama Indra Lesmana, beliau merupakan sosok ayah yang begitu bertanggung jawab dengan keluarga, penyayang , rendah hati, penyabar, sosok yang tegas sehingga ku selalu mengagumi sosok beliau. Tak pernah sekali pun aku melihat ayah dan ibu bertengkar, mereka selalu berkomunikas dengan baik dalam menyelesaikan suatu masalah dan tak pernah terdengar pula kata-kata kasar yang terucap dari mulut ayah maupun ibu.

Pagi yang indah, seperti biasa udara masih terasa sangat dingin saat menyentuh kulit karena sang surya pun masih enggan menampakan sinarnya, aku bangun pukul 04:30. Setelah merapikan rambut dan juga tempat tidur aku pun segera bergegas kebelakang untuk mengambil air wudhu.

“ Sudah bangun Sih?” Tanya Ibu yang kulihat sedang mencuci piring.

“ Sudah bu .” Jawabku yang masih setengah sadar dari mimpiku.

Aku pun segera berwudhu untuk melaksanakan sholat subuh, setelah itu mempersiapkan segala sesuatu yang hendak dibawa ke sekolah nanti.

“ Sih, Asih tolong lihat ade sudah bangun belum?”

“ Ya bu.”

Akupun segera melangkah ke kamar Tari, dan benar saja seperti dugaanku adikku itu masih pulas dengan mimpi - mimpinya. Setelah kubangunkan Tari yang masih terlihat kantuk dan belum tersadar dari dunia mimpinya, kutinggalkan dia yang terduduk dikasur menguap berkali - kali, akupun melangkahkan kaki ku menuju meja makan dimana disana terlihat ayah yang sudah siap dengan seragamnya dan bersantai menikmati segelas teh hangat dan sibuk dengan koranya, akupun duduk disebelahnya melihat kearah ibu yang juga sedang sibuk didapur dengan wajanya, sepertinya beliau memasak nasi goreng, kuperhatikan sesekali kearah Tari yang masih dikamarnya terduduk lesu menguatkan dirinya untuk bangun. Aku merasa sangat bersyukur masih bisa berkumpul dengan keluargaku, menikmati kesedarhanaan dan kehangatan keluarga dilingkaran meja makan tiap paginya.

“ Hai, Sih Asih sedang apa, kok melamun begitu ?” Tanya ayah.

“ Heeee. . . .Heeee…… Ga kok Yah.” Jawab ku cengengesan.

Buyar sudah semua pikiran dalam benak ku yang masih teringat dengan kejadian kemarin disekolah, dimana aku selalu diganggu oleh cowok yang duduk tepat dibelakangku, ganteng sih… tapi ah sudah lah…………

“ Yah, aku sangat bahagia terlahir dan dibesarkan di keluarga ini yang begitu harmonis. Aku selalu berdoa semoga keluarga kita selalu seperti ini selamanya.” Sambil bermanja menyenderkan kepalaku dibahu ayah.

“ Aamin….. Insyallah, Kita hanya manusia yang berusaha dan berusaha , berdoa yang terbaik yang bisa dilakukan terutama untuk keluarga, selebihnya kita pasrahkan atas kehendak Illahi. Ayah akan selalu berusaha menjadi yang terbaik buat keluarga ini, tak ada yang sempurna memang, baik ayah maupun ibu tidak ada yang sempurna, akan tetapi kita saling mengisi ketidak sempurnaan itu sehingga kekurang masing-masing bisa terpenuhi satu sama lain. Yang penting kamu sebagai wanita, apa lagi sekarang sudah menginjak remaja. Apa bila ada sesuatu tanyakan lah dan ceritakan lah, kami sebagai orang tua siap mendengarkan.” Ayah menjelaskan.

“ Benar apa yang dikatakan ayah mu Sih, kami sebagai orang tua yang tentunya pernah mengalami masa-masa seperti mu juga, jangan pernah sungkan atau pun takut bercerita apa bila ada sesuatu. Insyaalah orang tua selalu mengharapkan atau memberikan yang terbaik buat anak – anaknya.” Ibu menambahkan.

“ iya yah, iya bu. Asih janji akan selalu mendengarkan pesan ayah dan ibu, Asih akan berusaha menjadi anak yang baik dan baik lagi.”

Pagi ini saat sang surya sudah menampakan sinarnya, aku menjadi lebih bersemangat setelah mendengar nasihat ayah dan ibu, diiringi oleh nyanyian burung di pagi hari akupun berangkat ke sekolah dengan suka cita, senyum terus terpancar dalam bibir yang manis ini. Namun entah kenapa aku juga merasa malas, yah malas karena harus bertemu dengan cowok usil itu. Inilah cerita ku, cerita tentang cewek imut nan manis bernama Sri Hera Asih.


Posting Komentar

1 Komentar