[CERPEN] Sepatu Untuk Dika

baca cerpen 2019

Senin 12 Oktober 2001

Pagi ini diiringi nyanyian burung gereja dan diselimuti hangatnya mentari aku melangkah tegas menuju sekolah, sebuah tempat untuk menimba ilmu dan disana pula lah aku menggantungkan semua harapan untuk masa depanku kelak, hari ini merupakan hari pertamaku sebagai siswa kelas 3 SMA. Di tengah perjalananku menuju sekolah aku bertemu dengan temanku, teman seperjuangan untuk menggapai cita-cita kelak.

"Sepatu dah rusak kayak gitu masih dipakai aja dik? Minta dibeliin yang baru sama bapakmu napa?" Tanya Aldo sambil memperhatikan sepatuku yang memang sudah banyak berlubang seperti bekas tembakan peluru.

Ya... namanya Aldo, dia adalah teman baikku, bahkan bisa dibilang dia adalah sahabatku, walaupun orangnya ngeselin tapi dia tetap sahabatku, aku dan Aldo sudah berteman sejak kelas 3 SD, waktu itu dia adalah murid pindahan dari kota, sampai sekarang pun aku juga masih belum tahu alasan kenapa keluarga Aldo pindah ke desaku.

"Kamu kan tahu sendiri do kalau bapakku cuma tukang becak, mana mungkin bapaku sanggup beli sepatu baru, jangankan buat beli sepatu, buat beli beras untuk makan aja pas-pasan"

"Iya aku tau, tapi masa sepatu dari zaman SMP gak ganti-ganti"

Mendengar perkataan Aldo aku cuma bisa tersenyum, dan tanpa terasa kami pun sudah sampai di sekolah, sekolahku adalah sekolah nomor satu yang ada didesaku, sekolah yang mayoritas siswanya  merupakan anak dari keluarga yang mampu, sebut saja Andi anak dari kepala desa, dan Lukman anak dari pak camat pun bersekolah disini.

Jika kalian tanya kenapa aku bisa bersekolah disini, itu karena aku mendapatkan beasiswa penuh dari kelas satu sampai lulus nanti, karena aku merupakan siswa yang berprestasi, aku sering mengikuti lomba cerdas cermat untuk mewakili sekolahku, dan alhamdulillah hasilnya aku selalu menjadi juara, walaupun tidak selalu juara satu sih.

Aku dan Aldo pun segera masuk ke kelas kami, karena barusaja aku mendengar bunyi bel masuk. Sesampainya di kelas kulihat suasana kelas begitu ramai seperti pasar di Pagi hari, aku tidak tahu kenapa kalu hari pertama masuk sekolah itu pasti bebas alias enggak ada pelajaran, gak ada guru yang datang memberikan tugas, apalagi masuk memberikan pelajaran.

"Hei, hey... semuanya lihat nih sepatu baruku keren gak?"

Tiba-tiba terdengar suara salah satu temanku bernama Rudi di depan kelas sambil memamerkan sepatu baru yang dipakainya.

"Keren sekali rud, beli dimana dan berapa harganya?" Tanya Tono yang merupakan ketua kelas dari kelasku.

"Ini di beli in bapakku di kota, hadiah karena aku ranking 6 kelas dua kemarin, harganya mahal kamu pasti gak bisa beli no, apalagi kamu dik, bapakmu kan cuma tukang becak"

"Woy rud, jangan ngomong gitu, sekali lagi kamu ngehina dika, ku pukul nanti"

"Hehehe... sabar do, aku cuma bercanda, iya kan dik"

Aku yang denger omongan Rudi cuma bisa senyum sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal, apakah aku marah?, tentu saja marah siapa juga anak yang nggak marah jika orang tuanya dihina, tapi ya mau gimana lagi omongan si Rudi ada benarnya juga.

Tanpa terasa bel pulang sekolah pun berbunyi, hari ini aku ke sekolah hanya untuk mengobrol bersama teman-temanku, aku dan yang lainnya keluar kelas diiringi teriakan suka cita oleh para teman-teman ku yang ternyata sudah dari tadi menunggu bel pulang berbunyi. Saat digerbang sekolah tiba-tiba tanpa sebab yang jelas Aldo jatuh pingsan, kejadian segera membuat para siswa yang lainnya dan dewan guru menjadi heboh.

Aldo pun segera dibawa kerumah sakit oleh guru dan pak satpam dengan menggunakan mobil sekolah, ingin aku ikut bersama mereka untuk mengantar Aldo kerumah sakit, namun sayang aku tidak diperbolehkan ikut, dan aku hanya bisa berdoa kepada tuhan semoga Aldo baik-baik saja.

Selasa 13 Oktober 2001

Jam 08.20 saat pelajar kedua sedang berlangsung aku dan teman sekelasku mendapatkan berita yang sangat mencengangkan, berita yang membuat kami berduka, berita bahwa Aldo sahabatku telah meninggal dunia karena kanker otak. Berita itu jelas membuat aku dan teman sekelas ku bersedih, tanpa sadar air mataku mengalir membasahi pipi ini.

Hari itu juga aku dan semua teman-teman sekelasku bersama dengan para guru langsung datang kerumah Aldo untuk melihat Aldo terakhir kalinya dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Sungguh aku merasa sedih kehilangan sahabat seperti Aldo, sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Lagi-lagi air mata ini tidak bisa kubendung dan mengalir dengan deras membasahi mukaku saat kulihat jasad Aldo dimakamkan, aku juga melihat fani menangis histeris, cewe mana yang nggak bakalan sedih saat melihat kekasihnya meninggal dunia.

Malam ini begitu dingin, angin serasa merasuki tubuhku dan menembus tulang belulangku, malam ini terasa begitu sepi, malam ini aku begitu merasa sedih, merasa masih tidak percaya kalau sahabatku telah tiada. Disaat aku sedang memikirkan sahabatku Aldo, aku mendengar di depan sepeti ada tamu yang datang.

"Assalamualaikum..."

"Wa'alaikumusalam"

"Eh pak firman, ada apa pa? Tumben malam-malam kemari"

"Malam pak udin, saya kemari mau bertemu Dika, Dikanya ada?"

"Ada pa sebentar saya panggilkan"

"Dik... dika ada pak firman yang nyariin kamu"

"Iya pak, Dika segera kedepan"

"Monggo pak Firman masuk duduk dulu"

"Nggih pak udin"

Aku yang mengetahui bahwa ayah sahabatku datang mencariku langsung melangkah ke ruang tamu, dimana aku lihat bapak dan pak Firman sedang asik mengobrol, segera aku memegang tangan pak Firman untuk bersalaman.

"Ada apa ya pak malam-malam mencari Dika?"

"Ini loh nak dika ada hadiah untuk mu" sambil memberikan sebuah kado berwarna biru untukku.

"Hadiah apa pak?"

 "Buka saja, dan liat sendiri nak"

Aku pun yang penasaran dengan hadiah yang diberikan oleh ayah sahabatku itu langsung membukanya, dan alangkah terkejutnya ketika ku tahu apa yang dimaksud hadiah oleh pak Firman.

"Pak, bukannya ini......" bibirku bergetar, tak sanggup lagi ku ucapkan sebuah kata.

"Benar, itu sepatunya Aldo, sepatu yang biasa dia pakai. Sebelum meninggal Aldo berpesan bahwa sepatu itu harus diserahkan kepada nak Dika, sebagai hadiah ulang tahun dan pengganti sepatu nak Dika yang sudah rusak"

Detik itu juga diiringi oleh rintik hujan yang membasahi bumi yang seakan mengerti kesedihanku sekali lagi air mataku mengalir tanpa henti, terimakasih Aldo, kau memang sahabat terbaikku, sampai akhir hayatmu pun kau masih ingat hari ulang tahunku dan selalu membantuku, terimakasih sahabatku ALDO FIRMAN SAPUTRA.

~Tamat~

Posting Komentar

0 Komentar